PESAN MAULANA HABIB LUTHFI BIN YAHYA KEPADA UMAT ISLAM AGAR SELAMAT AGAMA, DUNIA DAN AKHIRAT

Ribuan umat senantiasa datang meminta nasihat kepada Maulana Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan. Diantara nasihat yang disampaikan beliau adalah seseorang itu harus memegang teguh beberapa prinsip agar mendapatkan keselamatan di dalam agama, dunia dan akhirat insya Allah.

Pertama, pegang teguh teladan salaf shalihin baik itu thariqahnya, akhlaknya, maupun amal shalehnya. Pegang teguh dengan kuat dan mantap. Walaupun sampai sulit dan kere (miskin) tetaplah teguh memegang teladan Salaf Shalihin. Gigit kuat dengan gerahammu, jangan dilepas jika kamu ingin selamat dan mendapat ridho Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kedua, jadikanlah keimanan sebagai Imam bukan akal yang menjadi ujung tombaknya. Hati-hati di akhir zaman ini akan dan sudah banyak muncul paham dan orang-orang yang lebih mengedepankan akal-rasio-logika dibandingkan imannya. Seharusnya iman menjadi imamnya, sedangkan akal dan logika menjadi makmumnya, mengikuti iman. Tinggalkan pendapat orang-orang yang mengedapankan akalnya dibanding imannya. Percuma dan sia-sia waktumu jika menanggapi orang-orang yang demikian, kamu akan rugi dunia akhirat. Karena bagaimana mungkin akal manusia bisa menerima seluruh kebesaran khazanah kerajaan Allah Subhanahu wa Ta’ala? Hanya keimanan lah yang dapat menerima kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Yang ketiga, ziarah shalihin atau mengunjungi orang-orang shaleh baik yang sudah wafat maupun yang masih hidup, dan kuatkan tali ikatan silaturahim. Berziarah (mengunjungi) kaum shalihin jangan hanya ketika ada maunya, kalau ada perlunya saja. Hal itu baik tidak terlarang, tetapi kurang kemanfaatannya untuk jangka panjang. Hanya untuk kebutuhan manfaat sesaat belaka, sungguh sangat disayangkan. Tetapi alangkah baiknya kita berziarah shalihin itu karena mahabbah ilaa mahbub, kecintaan kepada yang dicintai. Kalau hal ini dijalin dengan baik maka ia akan mendapat limpahan madad (pertolongan), sirr asrar (rahasia) dan jaah (essence, intisari) dari ziarahnya. Dan sering silaturahmi itu menimbulkan kecintaan dan keridhoan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada orang yang menjalin hubungan silaturahmi, sehingga rahmat dan berkah serta maghfirah Allah Subhanahu wa Ta’ala terlimpah kepadanya. Jauh dari bala’, musibah, penyakit dan diberi kelancaran rezeki. Insya Allah.

Yang keempat, jangan suka membeda-bedakan. Ini penyakit yang timbul dan tumbuh di akhir zaman ini. Jangan beda-bedakan itu suku apa, kabilah apa, bangsa apa, partainya apa, thariqahnya apa, madzhabnya apa dan sebagainya. Itu urusan Allah Subhanahu wa Ta’ala, kita ini manusia, hambaNya, makhluk ciptaanNya, jangan suka usil ikut campur urusannya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Makanya sekarang berbagai macam bala’ dan musibah bertubi-tubi datang karena ulah manusia itu sendiri. Yang suka sok tahu, sok jago, sok suci, sok pintar. Bukan kembali kepada Allah dan RasulNya, malah ikut campur urusan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Bijaksana lagi Maha Berkehendak, Allah Subhanahu wa Ta’ala yang akan menghukumi, menentukan secara mutlak kelak di pengadilan Ilahi Yang Maha Adil bagi seluruh makhlukNya. Segala sesuatu misal pengadilan itu semua adalah bentuk ikhtiar manusia belaka di muka bumi ini secara syariat. Ketentuan yang mutlak benar dan salah adalah di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala di Hari Kemudian. Keyakinan dan keimanan ini harus ditanam kuat dan kokoh dilubuk sanubari keimanan kita.

Dan yang terakhir atau kelima, jangan tinggalkan setiap harinya untuk membaca Al-Qur’an, shalawat kepada Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam, taat kepada guru/ syaikh/ mursyid, dan birul walidain (berbakti kepada orangtua). Jadikan hal ini semua awradmu. Jangan tinggal hal tersebut. Membaca Al-Qur’an walau satu ayat setiap harinya. Memperbanyak membaca shalawat kepada Baginda Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam. Jadikan hal ini semua awrad (wirid yang dilakukan istiqomah) bagi diri kita demi menggapai kebahagian dan keselamatan di dalam agama, dunia dan akhirat.

Cukup sudah lima hal ini kamu pegang erat-erat, Insya Allah Taufik, Hidayah dan Inayah Allah Subhanahu wa Ta’ala melimpah dan turun kepadamu.

Oleh: Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya Pekalongan, Rais Aam Idaroh Aliyah Jam’iyyah Ahli Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN), yang dialihtuliskan oleh Fidri Beno/ habiblutfi.net.

 

 

sumber : http://www.elhooda.net/2015/10/inilah-5-pesan-habib-luthfi-bin-yahya-agar-selamat-agama-dunia-dan-akhirat-di-akhir-zaman/

Advertisements

Jauhi politik! Jadilah pengusaha!

Saya pernah melakukan kampanye setahun penuh dengan tema: JAUHI POLITIK dengan subtema KERJA! KERJA! KERJA! Waktu itu, enam tahun lalu, saya ingin mengajak masyarakat agar tidak semua orang tersedot ke magnet politik yang memang lagi “hot” di negara kita.

Ada reformasi, ada kebebasan membentuk partai politik, ada pemilihan presiden langsung dan ada pilkada langsung. Waktu itu saya menangkap gejala terjadinya pembiusan politik kepada masyarakat luas.

Apalagi masyarakat Jawa Timur memang sangat politis. Tokoh-tokoh politik asal Jatim luar biasa dominannya. Akibatnya kedekatan mereka kepada rakyat Jatim juga kental. Buntutnya, daya sedot politik kepada rakyat luar biasa hebat.

Kampanye itu saya maksudkan agar orang ingat bahwa negara ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan politik. Semakin banyak politikus akan semakin ruwet. Semakin besar daya tarik masyarakat pada politik semakin seru pertengkaran politik. Bukan saja antar kekuatan politik, bahkan di internal kelompok-kelompok politik itu sendiri.

Mengapa sesekali perlu kampanye seperti itu?

Jawabnya: kita tidak boleh lupa bahwa salah satu syarat agar sebuah negara bisa maju adalah jumlah pengusahanya minimal harus 5% dari jumlah penduduknya. Sedang sebuah data menunjukkan bahwa jumlah pengusaha di Indoensia ini belum sampai 1% jumlah penduduk. Bahkan ada data yang menyebutkan baru 0,18%!

Orang seperti Ciputra atau Hermawana Kartajaya yang tidak jemu-jemunya membuat atmosfir enterpreuneur dan marketing di masyarakat bisa kalah gema dengan kampanye politik, kalau tidak ada yang menghambat wabah politik itu. Mengapa? Sebab, menjadikan seseorang jadi pengusaha atau menjadi orang marketing itu sulitnya bukan main. Perlu telaten, kerja sungguh-sungguh, jujur, konsisten dan merambat pelan.

Sedang untuk menjadi politikus: tidak perlu telaten, bahkan boleh hanya hit and run. Juga tidak perlu kerja sungguh-sungguh karena cukup modal mulut. Juga tidak perlu jujur. Bahkan kian pandai menipu kian baik. Tidak perlu konsisten. Bahkan loncat partai sana, loncat partai sini sah-sah saja. Juga tidak perlu konsisten: kapan-kapan koalisi dengan A, lain kali koalisi dengan B. Bahkan dalam satu koalisi pun suaranya bisa beda seperti dalam kasus angket BBM di DPR.

Jadi aktivis politik gampang. Jadi pengusaha atau orang marketing sulit. Karena itu saya sangat menghargai orang seperti Ciputra dan Hermawan Kartajaya yang di tengah-tengah hotnya isyu politik di Jatim saat menjelang Pilkada seperti ini, masih tetap gigih mengadakan berbagai perlawanan kepada arus politik.

Mungkin sudah waktunya lagi dikampanyekan besar-besaran JAUHI POLITIK disertai seruan KEMBALILAH BEKERJA. Terutama tahun-tahun terakhir ini daya pikat politik mengalami pasang naik lagi. Tragisnya, beberapa orang yang dulu sudah mulai tertarik jadi pengusaha dan sudah mulai menampakkan hasilnya kembali mengalami kemunduran. Gara-garanya: merasa sudah berduit, lalu terjun ke politik dan kehilanganlah IMAN wiraswastaannya.

Ingat! Kita perlu 5% penduduk yang mau jadi pengusaha.

 

Oleh DAHLAN ISKAN
Sumber: Radar Surabaya 10 Juli 2008

Dahlan Iskan dan Azrul Ananda: Keteladanan yang Mengalir Sampai Jauh

Dahlan Iskan membangun kerajaan bisnis Jawa Pos dengan kerja keras luar biasa. Bahkan, beberapa kalangan menilai Grup Jawa Pos menggurita karena sikap one man show Dahlan. Toh, kalangan dekatnya justru mengaku banyak melihat keteladanan yang begitu nyata diperlihatkan Dahlan dalam keseharian. Apa saja itu?

Dahlan Iskan sudah lama tak berkantor di Graha Pena, Surabaya. Namun, semangat, disiplin, kerja keras, kesederhanaan yang dimiliki Dahlan tertancap kuat di seantero kantor Jawa Pos yang membentang dari Sabang sampai Merauke. Jejak keberhasilan Dahlan bukan saja terukir dari pencapaian Jawa Pos yang menjelma menjadi konglomerasi bisnis media dengan sekitar 120 media cetak dan 20-an stasiun televisi lokal yang terserak di berbagai wilayah Nusantara, 40 jaringan percetakan, pabrik kertas, power plant, perminyakan, agrisbisnis, dan properti. Dahlan juga mewariskan sebuah keteladanan. Teladan tentang kesederhanaan, kerja keras, dan logika akal sehat sehingga melahirkan budaya bersikap, budaya berpikir, budaya bekerja pada segenap awak Grup Jawa Pos (GJP) sehingga grup usaha ini terbang sangat tinggi. Continue reading “Dahlan Iskan dan Azrul Ananda: Keteladanan yang Mengalir Sampai Jauh”

Collected Quotes from Albert Einstein (Catatan Pak Einstien)

Einstein Quote
Einstein Quote
“Imagination is more important than knowledge. Knowledge is limited. Imagination encircles the world.” Quoted in interview by G.S. Viereck , October 26,1929. Reprinted in “Glimpses of the Great”(1930).
“Why is it that nobody understands me, yet everybody likes me?”
—Albert Einstein — Quoted in an interview with New York Times, March 12,1944.
“I want to know God’s thoughts. The rest are details.”
—Albert Einstein — Quoted by E. Salaman in “ A Talk with Einstein”, Listener 54 (1955)
  Continue reading “Collected Quotes from Albert Einstein (Catatan Pak Einstien)”

Diri ini lemah

Ingin aku lari dari segala keramaian,

Ingin aku pergi meninggalkan semua urusan dunia ini,

Ingin aku merasakan kedamaian bersama Mu,

Diri ini lemah,

Tak mampu membendung nafsu dan glamour dunia,

Dikala disibukan dengan dunia ini,

Diri ini lemah tidak bisa melawan godaan syetan,

Diri ini sulit untuk mendekatiMu dikala harus berurusan dengan dunia,

Aku ingin bertapa selalu dekat denganMu,

Aku ingin menjauh dari segala urusan dunia,

Tapi apa daya karena segala tuntutan untuk mencari ridlomu,

Aku harus berurusan dengan dunia karena ini adalah juga kwajiban,

Tapi diri ini lemah untuk selalu dekat dengan Mu,

Aku ingin hari-hariku mendukung untuk selalu dekat dengan Mu,

Ya Allah bantulah hambamu inin yang lemah, untuk selalu dekat dengan Mu dan aku selalu berharap ridlo Mu,

Ketika menerima cobaan ‘keterpurukan’.

Sebagai manusia yang masih tinggal dibumi pasti pernah mengalami cobaan berkali2.

Sedikit cerita :

Semua orang tentu mempunyai cita-cita yang tinggi tapi tidak selalu cita2 itu yang kita impikan kita dapat memperolehnya dengan mulus. Setalah selesai SMK saya mempunyai cita-cita yang sangat tinggi, ingin seperti pak habibi, ingin kuliah di universitas ternama bahkan kuliah dinegeri orang. sudah banyak usaha, dan doa sudah saya kerjakan. mulai dari belajar setiap hari, berdoa sampai akhirnya mengikuti testnya. tapi hasilnya nihilll, hmmmheehhh menghela nafas dengan rasa kecewa yang mendalam. kemudian saya masuk PABTI UM kebetulan pernah ikut lomba di kampus tersebut jadi agak mendapat potongan. setelah setahun berjalan kemudian saya ikut pendaftaran kembali, saya sangat berharap sekali, tapi hasilnya tetap nihill, hati saya sangat menangis sekali, kemudian saya segera mencari masjid untuk melaksanakan sholat setelah sholat saya puas2kan untuk menangis diahadapan Allah, kemudian saya lanjutkan membaca ayat2 Al-qur’an, sambil menangis sampai hati saya merasa dingin, disaat itulah saya mulai berfikir apa kesalahan saya selama ini, memang semua tidak bolel disandarkan pada mahluk dan duniawi. Hanya satu sandaran yaitu Allah. Pasti Allah setiap tindakan yang disertai mencari Ridlo Allah pasti mendapatkan pahala. Dari itu semua saya dapat manfaat dan hikmah dari keterpurukan. sehingga sekarang saya semakin kuat bersandar kepada Allah dan selalu melihat diri sendiri.

Jangan kembalikan apa yang telah kamu pinjam dari ku.

Allah maha kaya, maha adil, rizki orang sudah ada yang mengatur.

Segala puji bagi Allah tuhan semesta allam, yang telah memberikan rizki cukup kepadaku.

Sungguh senang jika saya bisa membantu sekitar saya dengan apa yang telah Allah karuniakan kepadaku, tapi itu hanya titipan yang kapan saja bisa diambil. Jika saya sudah merasa cukup dengan apa yang telah saya miliki maka dari itu saya cukup puas untuk memberikan yang telah orang lain pinjam (hutang) dari saya.